• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Buku Tamu

Hukum Islam Tentang Merayakan Tahun Baru Masehi

 on Dec 15, 2012  

Hukum Islam Merayakan Tahun Baru Masehi, Haramkah merayakan Tahun Baru masehi?, dalil merayakan tahun baru masehi. Alhamdulillah hari ini masih diberikan nikmat iman dan islam semoga begitu juga dengan pembaca blog ini. Tak seperti biasanya saya sering membahas tentang dunia blogging kali ini kembali mencoba membahas tentang hukum islam tepatnya tentang Hukum Islam Merayakan Tahun Baru Masehi.

Tulisan Hukum Islam Merayakan Tahun Baru Masehi ini saya ambil dari sebuah blog islam yaitu arsitek-peradaban.abatasa.com ditulis oleh Ahmad Sarwat. Ide merepost artikel ini saya dapat setelah mendengarkan ceramah jum'at mengenai Perayaan Tahun Baru Masehi yang diharamkan oleh Islam dengan alasan menyangkut Aqidah. Untuk memperjelas hukum tersebut untuk saya sendiri maupun pembaca blog ini maka saya repost tulisan ini. Berikut tulisan tentang Hukum Hukum Islam Merayakan Tahun Baru Masehi

Hukum Islam Tentang Merayakan Tahun Baru Masehi


Ada sekian banyak pendapat yang berbeda tentang hukum merayakan tahun baru masehi. Sebagian mengharamkan dan sebagian lainnya membolehkannya dengan syarat.

1. Pendapat yang Mengharamkan


Mereka yang mengharamkan perayaan malam tahun baru masehi, berhujjah dengan beberapa argumen.

a. Perayaan Malam Tahun Baru Adalah Ibadah Orang Kafir


Bahwa perayaan malam tahun baru pada hakikatnya adalah ritual peribadatan para pemeluk agama bangsa-bangsa di Eropa, baik yang Nasrani atau pun agama lainnya.

Sejak masuknya ajaran agama Nasrani ke Eropa, beragam budaya paganis (keberhalaan) masuk ke dalam ajaran itu. Salah satunya adalah perayaan malam tahun baru. Bahkan menjadi satu kesatuan dengan perayaan Natal yang dipercaya secara salah oleh bangsa Eropa sebagai hari lahir nabi Isa.

Walhasil, perayaan malam tahun baru masehi itu adalah perayaan hari besar agama kafir. Maka hukumnya haram dilakukan oleh umat Islam.

b. Perayaan Malam Tahun Baru Menyerupai Orang Kafir


Meski barangkali ada yang berpendapat bahwa perayaan malam tahun tergantung niatnya, namun paling tidak seorang muslim yang merayakan datangnya malam tahun baru itu sudah menyerupai ibadah orang kafir. Dan sekedar menyerupai itu pun sudah haram hukumnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:


Siapa yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (agama tertentu), maka dia termasuk bagian dari mereka.

c. Perayaan Malam Tahun Baru Penuh Maksiat


Sulit dipungkiri bahwa kebanyakan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum khamar, berzina, tertawa dan hura-hura. Bahkan bergadang semalam suntuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. Padahal Allah SWT telah menjadikan malam untuk berisitrahat, bukan untuk melek sepanjang malam, kecuali bila ada anjuran untuk shalat malam.

Maka mengharamkan perayaan malam tahun baru buat umat Islam adalah upaya untuk mencegah dan melindungi umat Islam dari pengaruh buruk yang lazim dikerjakan para ahli maksiat.

d. Perayaan Malam Tahun Baru Adalah Bid`ah


Syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah syariat yang lengkap dan sudah tuntas. Tidak ada lagi yang tertinggal.

Sedangkan fenomena sebagian umat Islam yang mengadakan perayaan malam tahun baru Masehi di masjid-masijd dengan melakukan shalat malam berjamaah, tanpa alasan lain kecuali karena datangnya malam tahun baru, adalah sebuah perbuatan bid'ah yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW, para shahabat dan salafus shalih.

Maka hukumnya bid'ah bila khusus untuk even malam tahun baru digelar ibadah ritual tertentu, seperti qiyamullail, doa bersama, istighatsah, renungan malam, tafakkur alam, atau ibadah mahdhah lainnya. Karena tidak ada landasan syar'inya.

2. Pendapat yang Menghalalkan


Pendapat yang menghalalkan berangkat dari argumentasi bahwa perayaan malam tahun baru Masehi tidak selalu terkait dengan ritual agama tertentu. Semua tergantung niatnya. Kalau diniatkan untuk beribadah atau ikut-ikutan orang kafir, maka hukumnya haram. Tetapi tidak diniatkan mengikuti ritual orang kafir, maka tidak ada larangannya.

Mereka mengambil perbandingan dengan liburnya umat Islam di hari natal. Kenyataannya setiap ada tanggal merah di kalender karena natal, tahun baru, kenaikan Isa, paskah dan sejenisnya, umat Islam pun ikut-ikutan libur kerja dan sekolah. Bahkan bank-bank syariah, sekolah Islam, pesantren, departemen Agama RI dan institusi-institusi keIslaman lainnya juga ikut libur. Apakah liburnya umat Islam karena hari-hari besar kristen itu termasuk ikut merayakan hari besar mereka?

Umumnya kita akan menjawab bahwa hal itu tergantung niatnya. Kalau kita niatkan untuk merayakan, maka hukumnya haram. Tapi kalau tidak diniatkan merayakan, maka hukumnya boleh-boleh saja.

Demikian juga dengan ikutan perayaan malam tahun baru, kalau diniatkan ibadah dan ikut-ikutan tradisi bangsa kafir, maka hukumnya haram. Tapi bila tanpa niat yang demikian, tidak mengapa hukumnya.

Adapun kebiasaan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum khamar, zina dan serangkaian maksiat, tentu hukumnya haram. Namun bila yang dilakukan bukan maksiat, tentu keharamannya tidak ada. Yang haram adalah maksiatnya, bukan merayakan malam tahun barunya.

Misalnya, umat Islam memanfaatkan even malam tahun baru untuk melakukan hal-hal positif, seperti memberi makan fakir miskin, menyantuni panti asuhan, membersihkan lingkungan dan sebagainya.

Demikianlah ringkasan singkat tentang perbedaan pandangan dari beragam kalangan tentang hukum umat Islam merayakan malam tahun baru.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat,


Terlepas dari pendapat Hukum Islam Tentang Merayakan Tahun Baru Masehi diatas semua keputusan kembali kepada pribadi masing-masing, apa masih akan ikut merayakan perayaan tahun baru atau meninggalkannya. Kalau saya sih mending di kost mantengin laptop mengembangkan ilmu :).

Hukum Islam Tentang Merayakan Tahun Baru Masehi 4.5 5 Anwar Sofii Dec 15, 2012 Perayaan tahun baru, Hukum Islam Merayakan Tahun Baru Masehi, Perayaan Tahun Baru Masehi yang diharamkan oleh Islam, sebab haram merayakan tahun baru, Haramkah merayakan Tahun Baru masehi?, dalil merayakan tahun baru masehi Hukum Islam Merayakan Tahun Baru Masehi, Haramkah merayakan Tahun Baru masehi?, dalil merayakan tahun baru masehi . Alhamdulillah hari ini ...


16 comments:

  1. jadi gk baik ya merayakan Tahun Baru Masehi ?

    ReplyDelete
  2. terimakasih sudah mau berbagi artikel yg menarik ini...

    ReplyDelete
  3. Wah, jadi humunya bisa jaadi haram ya..
    saya baru tahu, terima kasih sudah mengingatkan kita semua dan sukses selalu buat anda :)

    ReplyDelete
  4. semua tergantung niat.?? dan niat tidak akan terlaksana tanpa ada perbuatan.cötoh Saya niat memberi uang tapi uang itu hasil mencuri gmana hukumya.saya niat mau ke jakarta tpi cuma punya niat doang tanpa kita berangkat apa nyampai. Aku niat shalat tpi dalam gerakan hanya main main apa syah shalatnya.sperti juga tahun baru niatnya sih ga ikut ikutan tpi pda kenyataan ikut meramaikan. Itu sama aja ikut ikutan masbro

    ReplyDelete
  5. yang mana yg baik ikut aja lah.

    ReplyDelete
  6. asal gak ngelanggar aturan biarkan saja ....thx

    ReplyDelete
  7. kebanyak memang perayaan tahun baru itu, berlebihan.
    contohnya membakar petasan hingga milyaran rupiah

    ReplyDelete

Pembaca Yang Baik ialah Pembaca Yang Meninggalkan Komentar Yang Nyambung dengan isi artikel, komentarmu = sifatmu!!!
- Jangan tinggalin link dalam komentar, bila terjadi akan saya hapus!
- Dilarang Komentar kasar, kotor, dan sara!

J-Theme